Jilbab dan Senja di ujung Bintaro



Jilbab & Senja di mana saja.
Berawal dari sebuah pertemuan di ujung senja, di mana matahari ku temukan tumbang segaris dengan kerutan di keningku. Ketika seorang perempuan yang duduk tepat di sampingku- lengkap dengan baju dan hijab SYAR’Inya- membuka pembicaraan tentang jilbab dengan pembukaan- jika meminjam istilah yang dipakai Po dalam kungfu panda 3 “pembukaan yang dramatis”- yang dramatis, “sebagai muslimah, bukankah wajib memakai jilbab?” tuturnya sebagai pembuka pembicaraan. Aku berfikir bahwa mungkin tersenyum adalah jawaban yang tepat untuk sebuah pertanyaan dari orang yang baru saja aku kenal dan terlihat lebih tua usianya dariku. Tapi ternyata senyumku yang ku kira mampu menghipnotisnya untuk tak melanjutkan pertanyaan dan pernyataannya malah membuatnya semakin menyerangku dengan segudang pertanyaan dan pernyataan yang aku kira menyimpan motif dan harapan besar.
“Di dalam al-Qur’an dan hadis juga jelas termuat tentang kewajiban memakai jilbab.” Lanjutnya dengan senyum yang rapat dan penuh harap. “batasan-batasannya pun jelas.” Kali ini aku sedikit menambahkan kerutan di kening dalam senyuman yang masih saja aku pakai sebagai jawaban. Entah apa yang dia fikirkan tentang senyumanku, tanda faham, tanda tak mengerti, tanda sepakat, atau bahkan tanda tak peduli. Cap cip cup, entah mana yang tepat. Aku punya tujuan tersendiri untuk tak menjawab segudang pertanyaan berusia purba dan masih menjadi wacana hangat di zaman sekarang. Aku kira, ruangan berukuran 4x4 m 2 ini bukan tempat yang tepat untuk melebarkan diskusi yang harusnya membutuhkan durasi panjang. Ingin rasanya aku mengajaknya ke luar dan membawanya ke kedai kopi hanya sekedar untuk memberikan tanggapan untuknya sambil menyeruput secangkir kopi yang mungkin saja bisa memudarkan kerutan di keningku yang sedari tadi semakin bertambah garis. Tapi apa daya, bedug adzan Maghrib tak juga kunjung berirama. Aku tetap saja bungkam. Dan dia masih saja enggan menyudahi pembahasan ini.
“Jibab yang kita pakai itu harus panjang, menutup dada dan tidak menerawang.” Kali ini ia menjelaskan batasan. Kini mataku menatap lekat akan jilbab yang dikenakannya. Jilbab Syar’I orang-orang menyebutnya seperti itu. Fikirku apa yang dimaksud dengan jilbab Syar’i? apakah jilbab yang sesuai syari’at Islam? lantas apakah jilbab- selain kategori di atas- bukan jilbab yang sesuai dengan syari’at Islam? “sebagai wanita muslimah kita harus lebih hati-hati memilih apa yang kita pakai.” tuturnya menghentikan pertanyaan yang sedari tadi ku simpan rapat dalam benak.  Ia berbicara seolah identitas seorang muslim diukur dari cara berpakaian dan berhijab semata. ia pun melanjutkan “Sekarang banyak sekali model jilbab yang semata-mata hanya dipakai sebagai gaya-gayaan saja. Toh kelakuan mereka juga tak mencerminkan sikap seorang muslimah”. “fiuuuhhhh”. Ku hempaskan nafas panjang, sedikit sesak rasanya mendengar seseorang yang terlalu mudah menjudge orang lain dari tataran dhohir. Diam tanpa berkomentar. Aku masih saja istiqomah dalam diam. Bedug Maghrib memecah diamku. “buka puasa dulu yuk mbak.” Ajakku sebagai dalih akhir dari pembahasan sore itu.
Jilbab memang mengalami banyak perkembangan hingga sekarang banyak sekali model jilbab atau hijab yang menurutku secara esensial mempunyai makna yang sama, yaitu Satrul ‘auroh, baik hijab syar’i, segi empat, pashmina dan lain sebagainya. Hanya saja aku tidak sepakat jika jilbab dijadikan tolak ukur utama yang menentukan identitas seorang muslimah. Jika kita lihat pada zaman perjuangan kemerdekaan indonesia, banyak pahlawan muslim seperti Cut Nyak Dien yang tidak memakai kerudung atau jilbab yang dengan gigihnya ikut berjuang melawan penjajah, apakah mereka juga tidak pantas kita sebut sebagai muslimah? Aku kira fikiran itu terlalu sempit dan fanatis.
Jilbab tak hanya dipakai oleh seorang muslimah. Pernah nonton film india kan? Banyak umat beragama hindu yang memakai tudung di kepalanya. Dan dalam Kristen dan protestan, pernah liat biarawati dan para susternya kan? Mereka pun memakai -semacam – jilbab. Bunda Teressa, salah satu tokoh panutan umat Kristen dan Katolik selalu memakai jilbab dalam hidupnya. Jilbab dengan nuansa putih dan sentuhan garis biru sang Bunda telah menjadi bagian dari keramahan dan kepeduliannya terhadap sesama.
Rabbi Rachel, salah satu Rabbi yang sangat dihormati oleh umat Yahudi juga selalu menggunakan penutup kepala dan longdress dalam kesehariannya, terutama pada saat memimpin prosesi keagamaan.
Satu lagi. Pernah nonoton film Kera Sakti? Tau Dewi Kwam in? dia dikenal sebagai Buddha dengan 20 ajaran welas asih, juga digambarkan memakai pakaian suci yang panjang menutup seluruh tubuh dengan kerudung berwarna putih menutup kepala.
Jilbab tak hanya milik Islam. dan jilbab bukan satu-satunya tolak ukur apakah ia seorang muslimah atau tidak. Apapun namanya, jilbab atau penutup kepala dan pakaian yang menutupi sebagian besar tubuh wanita, diakui atau tidak adalah bagian dari tradisi dan ajaran agama-agama. terasa sempit sekali jika mengkaitkan model jilbab dengan moralitas personal.
Hal yang tak perlu diperhatikan dan tidak penting untuk dipercaya adalah tulisan saya di atas. Karena saya bukan seorang penulis dan tulisan saya hanya awur-awuran. Terimakasih telah membuang waktu anda untuk membaca coretan senja saya. 


Komentar

Postingan Populer