Pengalaman Belajar Chinese Language
Salah satu hal yang menjadi hobiku adalah learning foreign language. Pada tahun 2020 puji syukur alhamdulillah. Aplikasi beasiswa China aku diterima. Hahaha finally, I got you. Dan saat itu aku ambil pengantar Chinese buat study master. Karena aku belum punya HSK ( hàn yǔ shuǐ píng kǎo shì / IELTSnya China ), konsekuensinya harus mengambil kelas Bahasa China selama satu tahun. And now it‘s time to take an HKS exam.
Well, aku mau cerita pengalaman belajar Chinese di salah satu Universitas yang ada di Provinsi Shandong. Aku masih inget banget waktu aku kecil aku sering nonton Chinese movie, especially Kungfu movie, dan pertama kali aku liat karakter china dan denger Bahasa china, buat aku itu bahasa paling aneh dan susah banget. Karena waktu itu anak-anak kalau niruin Chinese pasti woshingsheng woshingsheng, padahal istilah woshingsheng ini gak pernah ada kesepakatan formal. Tapi gak tau kenapa, sampai sekarang, mostly temen-temen yang gak pernah belajar Chinese Ketika tahu aku belajar Chinese pasti dibully dengan kata wowhingsheng. It’s true.
![]() |
| 书法 |
Nah, ceritanya Chinese language itu kan bahasa yang memakai nada. Jadi kalau pronounce nada kita salah, automatically artinya bakal salah. Dan waktu itu, ini pelajaran awal banget, topiknya masih tentang sapaan, perkenalan dan masih topik-topik dasar. Waktu itu Laoshi aku minta aku buat baca dialog yang awal dari dialognya itu berbunyi 请问( qǐng wèn ) yang artinya permisi. Dan taraaaaa aku bacanya salah nada dong, yang harusnya pakai nada 4, dan aku bacanya pakai nada 3 yang artinya kiss : 吻 ( wěn ). Jadi 请问yang artinya may I ask atau permisi, jadi yang aku baca artinya please kiss. 请: Please 吻: Kiss. Oh God.
Dan parahnya seisi kelas ketawa Ketika Laoshi aku bilang “ Anna, do you want me to kiss you?” me: what??? “You pronounce it wrong. You should said it by 4th tone, not 3rd tone.” Oh, malunya… Dan sampe sekarang aku gak bakal lupa cara pronounce qingwen yang benar. Hahahaha. So, kalau kalian lagi belajar Chinese, please pay attention to tones. Dan tones aturannya banyak banget. Aku bakal buat tulisan khusus untuk ngebahas tentang tone rules in Chinese.
Next, Apa yang aku rasain ketika pertama belajar Chinese? Buat aku ini challenging banget. First, karena Laoshi berbicara bahasa inggris gak terlalu bagus, jadi mostly mereka masih bantu ngejelasinnya in Chinese, mixed English juga. Buat semester pertama belajar, masih dapat penjelasan pakai bahasa inggris. Tapi mulai semester kedua kemarin, all of my Laoshi, all of them explained in Chinese, totally in Chinese. And when we speak in English they will said, sorry, it’s Chinese class, no English. Selain itu Chinese berangkat dari titik dasar yang berbeda dengan bahasa Indonesia atau Inggris. dengan kata lain, ketika pertama kita belajar bahasa Indonesia dan Inggris, hal pertama yang akan kita pelajari adalah alphabet, dan ketika kita belajar bahasa Chinese, yang kita pelajari adalah Pinyin yang cara bacanya sama sekali berbeda dengan cara baca alphabet.
Ngomongin tentang buku yang dipakai dikelas buat belajar Chinese. Jadi aku sharing sama temen-temen di universitras lain. Kesimpulan yang aku ambil setiap kampus punya buku pegangan masing-masing. Temen aku, dia pakai buku HSK dan aku pakai buku Developing Chinese. But mostly mereka pakai karakter yang simplified.
Susah gak belajar Bahasa China? It depends on your effort and courage. Yang paling susah buat aku itu hafalin hanzi atau karakter Chinese. Soalnya ini bener-bener harus kita hafalin. Even Ketika kita typing bakalan pakai pinyin, tapi tetep kita harus tau karakter Chinesenya. Terkadang pinyin bisa sama, tapi karakternya beda.
That’s it. Kalian punya cerita lucu apa Ketika belajar foreign language? Boleh share di komentar, ya.



Komentar
Posting Komentar