Candra Naya : Pelepas Rindu Etnis Tionghoa Indonesia
Bebarapa hari yang
lalu kuputuskan untuk mengunjungi salah satu situs sejarah di
Jakarta, tepatnya bangunan cagar budaya "Candranaya" yang dibangun
sekitar abad ke-18 yakni 1800 an silam. Bangunan ini merupakan sebuah rumah
kuno bergaya Tiongkok yang menjadi saksi sejarah hadirnya Etnis Tionghoa
di Indonesia.
Nama "Candranaya" sendiri memiliki sejarah panjang. Dulu bangunan ini dikenal dengan sebutan Rumah Mayor, yakni rumah sang mayor Khouw Kim An pada masa pemerintahan Hindia-Belanda di Batavia. Mayor adalah sebuah jabatan yang cukup prestisius dalam struktur pemerintahan Hindia Belanda di Batavia. Jabatan itu menunjukkan bahwa tuan rumah (mayor Khouw Kim An) tersebut berstatus sosial tinggi. Selain dikenal sebagai salah satu pemegang saham Bataviaasche Bank 1942 dia juga dikenal sebagai pengusaha sukses kenamaan Tionghoa-Indonesia.
Khouw Kim An sendiri merupakan
ketua perkumpulan orang Tionghoa di Batavia kala itu. Ayahnya, Khouw Tjeng
Tjoan, menghadiahi sebuah rumah kepada tiga anaknya, salah satunya adalah rumah
mayor ini. Selain dijadikan rumah dan tempat kerja pribadi, rumah ini juga
menjadi pusat perkumpulan orang- orang Tionghoa.
Dalam pintasan sejarah, orang-orang
Tionghoa atau yang disebut dengan orang dari timur Asing (Cina), mengalamai perlakuan diskriminatif dari VOC di Hindia-Belanda.
Mereka dikenakan pajak ganda (pajak penghasilan dan pajak kekayaan). selain itu, ketika Pemerintahan Hindia-Belanda Menggagas "Politik Etis", dan itu hanya berlaku bagi kalangan bumi putra saja. Lagi-lagi etnis Tionghoa semacam anak tiriyang luput dari asih sayang orang tua. Oleh sebab
itu mereka melakukan perlawanan-perlawan, bersatu dengan Bumi Putra dan
raja-raja Jawa untuk menumpas perlakuan diskriminatif tersebut.
Menjelang abad 20 terjadi perubahan kebijakan di Tiongkok. Hal Itu berdapak pula terhadap
inisiatif-inesiatif Etnis Tionghoa di Batavia untuk mengadakan Peserikatan
bagi orang-orang Tionghoa. Sebagaimana dalam tuturan Neo Joe Lan dalam bukunya Riwajat 40 Taon dari Tiong Hoa Whe
Koan-Batavia (1900-1939); “......
waktoe di negeri leluhur sedang diadakan perubahan rupa-rupa soal. toean-toean
Phoa Keng Hek, Oey Koen Li, Khouw Kim An dll. Insjaf tentang pentingnya
perserikatan bangsa Tionghoa dan Onderwijs Tionghoa. Maka marika laloe bekerdja
keras boeat sampeken merika poenja angen-angen" (8:1940).
8 Juni 1900 berdirilah
perserikatan Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) Batavia yang bermarkas di rumah sang
mayor Khouw Kim An. Perkumpulan ini akhirnya berkembang melahirkan Hollandsch-Chineesche Scolen (HCS).
selain melahirkan HCS, THHK juga menginspirasi berdirinya Budi
Utomo, Muhamadiyah, Sarekat dagang Islam (kemudian hari menjadi SI) dan
pergerakan Nasionalisme bumi putra lainya.
![]() |
| Foto Gedung Candranaya Tampak Depan Malam Hari |
Pada masa pemerintahan Jepang
1942 sang mayor Khouw Kim An ditangkap dan dipenjarakan di Jawa Barat dan dia
pun meninggal dunia pada tahun 1945. Sejak
ditinggal oleh pemiliknya, rumah mayor diurus oleh keluarga yang mewarisinya. Sekitar 1960 rumah mayor ini disewa oleh
perkumpulan Sing Ming Hwee
(perkumpulan orang-orang Tionghoa yang bergerak
dalam bidang pendidikan kesehatan, dan sosial) Perkumpulan ini berafiliasi dengan Tiong Hoa Hwee Koan. Dari
perkumpulan Sing Ming Hwee lahilah Universitas Taruma Negara, Rumah Sakit Sumber waras, Rumah Sakit Husada, dll.
Setelah Kemerdekaan dan NKRI baru berjalan. Soekarno sebagai presiden pertama membuat sebuah kebijakan tentang tidak dibolehkanya nama-nama Asing di negeri ini. oleh sebab itu, maka dirubahlah
nama perkumpulan Sing Ming Hwee itu
menjadi Candranaya. Bagi etnis Tonghoa, keberadaan Candranaya
menjadi pengingat sekaligus hiburan
tersendiri serta pelepas rindu sejarah kelam perjalanan
leluhur mereka di Batavia.



Komentar
Posting Komentar