Memoar Lapangan Banteng

Foto ini diambil di Lapangan Banteng, 26 Agustus 2018

Dalam kalkulasi orang kampung dimana aku tinggal, usiaku ini dianggap sudah bisa meretas jalan sendiri (menentukan kontrak sosialku dan bertanggung jawab). Ya, aku sudah besar, tetapi mimpiku jauh lebih besar. Banyak hal yang ingin aku lakukan, tetapi banyak dari hal itu butuh modal yang sangat besar. Belajar ke luar negeri, salah satunya. Well, banyak beasiswa, tapi aku belum siap untuk gagal. Okay, that’s my big fault. Jelajah pulau jawa adalah keinginan selanjutnya, but i need more money to do that. Finally aku mulai mengunjungi beberapa tempat bersejarah yang tak begitu butuh banyak uang yang harus ku keluarkan untuk berkunjung.

Aku memulainya dari “Lapangan Banteng”. Sejak diresmikan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, Usai revitalisasi, Rabu 25 Juli 2018 lalu, lapangan Banteng menjadi tema hangat di berbagai media sosial. Tempat ini merupakan salah satu ikon di Jakarta.

Mungkin sebagian dari pengunjung hanya menikmati pemandangan dan suasana lapangan Banteng, ada yang memanfaatkanya untuk olahraga, sebagian yang lain menikmati sambil memikirkan apa yang melatarbelakangi bangunan tersebut? Kenapa terdapat patung manusia kekar berambut keriting dengan rantai terputus di tangan dan kakinya?

Lapangan Banteng memiliki sejarah panjang hingga menjadi tempat yang instagrammable seperti sekarang. Pada abad ke-17, seorang pedagang VOC, Antony Pavillion, membeli sebidang tanah yang sangat luas, yang masih berupa hutan dan rawa. Tanah ini kemudian disebut Paviljoenveld atau lapangan Paviliun, letaknya di sebelah barat kali Ciliwung. Tanah ini beberapa kali berpindah tangan, sebelum pada 1979 dibeli oleh Gubernur Jenderal Van Oversraten.    

Saat di tubuh VOC terjadi pertentangan, tanah tersebut disita oleh penggantinya, yakni Gubernur Jenderal Herman William Deandles dan kemudian Deandles menyulap tanah ini menjadi suatu kamp militer dan pusat pemerintahan kemudian mengganti namanya menjadi Paradeplaats atau lapangan Parade. Selain melakukan parade, militer Hindia biasa unjuk kebolehan di sana. Sejak itu lapangan selalu ramai dikunjungi (Alwi Shahab, 2002:49).

Lapangan Singa, juga pernah menjadi sebutan lapangan Banteng. Rakyat dulu menyebut lapangan Banteng dengan lapangan Singa karena di lapangan ini terpampang tugu peringatan dengan patung singa di atasnya. Tugu ini merupakan monumen untuk memperingati kekalahan Napoleon di medan perang Waterloo (Belgia 1815). Karena hal ini juga mereka menyebutnya Waterlooplein (lapangan Waterloo). Kemudian pada tahun 1942 monumen ini diruntuhkan oleh Jepang.

Lapangan banteng menjadi sangat populer saat Indonesia merdeka. Pada masa presiden Soekarno, lapangan ini dikukuhkan karena dianggap mewakili semangat perjuangan bangsa Indonesia. pada saat yang sama Soekarno turut membangun tugu pembebasan yakni patung orang yang mengangkat tangan dengan rantai yang terputus. Ini-lah simbol pembebasan rakyat Irian Barat (sekarang Papua) dari Belanda. Peristiwa ini tidak lekang dari agresi meliter yang dikumandangkan oleh Presiden Soekarno atau yang disebut dengan Tri Komando Rakyat (TRIKORA).

Aku kira sebuah perjalanan itu mesti menuai makna, pesan dan inspirasi. Bukan sekedar cekrek sana, cekrek sini, hanya untuk memenuhi hasrat euforia status medsos saja. Agar supaya slogan yang dikatakan oleh Soekarno “Jangan Lupa Sejarah” atau JAS MERAH bukan jargon kosong tanpa makna. Bahwa nafas dan kebebasan bangsa ini bukan diperoleh secara gratis. Untuk itu tugas kita adalah mengenang dan menjaga semangat perjuangan tersebut.

#takeapicturetakeahistory

Komentar

  1. Balasan
    1. Tulisan selajutnya bisa langsung mampir ke sini https://reeyanayasin.blogspot.com/2018/09/kota-benteng-batavia-simbol-keangkuhan.html ya. Terimakasih sudah mampir.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer